Kaidah Waqof & Ibtida’ Bag. 6

Dianjurkan Waqof pada Ha’ Saktah

Diantara kebiasaan bangsa arab dalam berbicara adalah mereka tidak memulai sebuah kata dengan huruf sukun serta tidak mengakhiri sebuah kalimat dengan huruf yang berharokat. Oleh karenanya saat terdapat sebuuah kata yang berawalan huruf sukun, maka akan ditambahkan hamzah washol di depannya, seperti (انْصُرْ) dan semisalnya. Sedangkan untuk mengatasi sebuah kalimat agar mudah diucapkan dan didengar saat berhenti, maka terkadang ditambahkanlah Ha’ saktah.

Definisi dari Ha Saktah sendiri adalah:

وهي هاءٌ ساكنةٌ تلحقُ طائفةً من الكلمات عندَ الوقفِ

“Huruf ha’ yang ditambahkan pada berbagai kalimat saat waqof”

Sebagaimana definisi diatas, Ha’ tersebut ditambahkan di akhir kata alias saat berhenti/waqof pada sebuah kata. Sehingga ia tidak dijumpai di tengah-tengah kalimat. Dalam Al-Quran sendiri terdapat beberapa kalimat yang ditambahkan Ha’ Saktah ini, yaitu:

Pertama: Lafadz (يتسنه) di surat Al-Baqoroh ayat 259

أَوۡ كَٱلَّذِی مَرَّ عَلَىٰ قَرۡیَةࣲ وَهِیَ خَاوِیَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ یُحۡیِۦ هَـٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامࣲ ثُمَّ بَعَثَهُۥۖ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ یَوۡمࣲۖ قَالَ بَل لَّبِثۡتَ مِا۟ئَةَ عَامࣲ فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ یَتَسَنَّهۡۖ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ ءَایَةࣰ لِّلنَّاسِۖ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَیۡفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡمࣰاۚ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱه

Kedua: Lafadz (اقتده) di surat Al-An’am ayat 90

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ قُل لَّاۤ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَیۡهِ أَجۡرًاۖ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَـٰلَمِینَ

Ketiga: Lafadz (كتابيه) di surat Al-Haqqoh ayat 19 & 25

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِیَ كِتَـٰبَهُۥ بِیَمِینِهِۦ فَیَقُولُ هَاۤؤُمُ ٱقۡرَءُوا۟ كِتَـٰبِیَهۡ

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِیَ كِتَـٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَیَقُولُ یَـٰلَیۡتَنِی لَمۡ أُوتَ كِتَـٰبِیَهۡ

Keempat: Lafadz (حسابيه) di surat Al–Haqqoh ayat 20 & 26

إِنِّی ظَنَنتُ أَنِّی مُلَـٰقٍ حِسَابِیَهۡ

وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِیَهۡ

Kelima: Lafadz (ماليه) di surat Al-Haqqoh ayat 28

مَاۤ أَغۡنَىٰ عَنِّی مَالِیَهۡۜ

Keenam: Lafadz (سلطانية) di surat Al-Haqqoh ayat 29

هَلَكَ عَنِّی سُلۡطَـٰنِیَهۡ

Ketuju: Lafadz (ماهية) di surat Al-Qori’ah ayat 10

وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا هِیَهۡ

Saat seseorang membaca Al-Quran dan melewati kalimat-kalimat yang memiliki Ha’ Saktah diatas, maka ia dianjurkan untuk berhenti/waqof, sebagaimana alasan yang telah kami sampaikan diatas.

Wallahu a’lam.

Referensi:

Al-Muktafa, Ad-Dani

Penulis : Ust. Afit Iqwanudin, Lc Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah. Sempat juga kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2014.

هل في الجنة ليل ونهار؟

Apakah di Surga ada malam dan siang?

وما معنى قوله تعالى: “ولهم رزقهم فيها بكرة وعشيا” ؟

Apa makna Firman Allah ta’ala : “Dan di dalamnya bagi mereka ada rezeki pagi dan petang.” (QS. Maryam ayat 62)

قال ابن كثير في تفسير قوله تعالى:”ولهم رزقهم فيها بكرة وعشيا * تلك الجنة التي نورث من عبادنا من كان تقيا “أي: في مثل وقت البكرات ووقت العشيات، لا أن هناك ليلا ونهارا، ولكنهم في أوقات تتعاقب يعرفون مضيها بأضواء وأنوار

( التفسير ابن كثير ٤٧١/٤ )

Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya: yaitu seperti waktu pagi dan waktu malam karena di sana tidak ada siang dan tidak ada malam. Mereka hidup dalam waktu yang sambung-menyambung sebagaimana mereka ketahui perjalanannya dengan sinar dan cahaya)

(Tafsir Ibnu Katsir, 4/471)

وقال ابن تيمية:” والجنة ليس فيها شمس ولا قمر، ولا ليل ولا نهار، لكن تعرف البكرة والعشية بنور يظهر من قبل العرش “.

( المجموع ٣١٢/٤ )

Syaikhul Islam berkata: “Di surga itu tidak ada matahari maupun bulan dan tidak ada siang maupun malam. Namun, siang dan malam diketahui dengan adanya cahaya yang muncul dari arah Arsy.” (Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam, 4/312)

وقال القرطبي: ” قال العلماء: ليس في الجنة ليل ونهار، وإنما هم في نور دائم أبدا، وإنما يعرِفون مقدار الليل بإرخاء الحجب وإغلاق الأبواب، ويعرفون مقدار النهار برفع الحجب وفتح الأبواب، ذكره أبو الفرج بن الجوزي

( التذكرة للقرطبي ٥٠٤ )

Imam Qurthubi berkata bahwa para ulama mengatakan, “Di surga itu tidak ada siang maupun malam. Mereka senantiasa hidup di bawah cahaya untuk selama-lamanya.Mereka mengetahui perkiraan malam dengan diturunkannya hijab dan ditutupnya pintu-pintu.Mereka mengetahui perkiraan siang dengan diangkatnya hijab dan dibukanya pintu-pintu, begitu juga perkataan Ibnu Al Jauzi”

(At-Tadzkirah, al-Qurthubi, hlm. 504)

※※※※※※※※※※※※※※※※

Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

Sapi

A. Rp. 18.000.000,-

B. Rp. 20.000.000,-

C. Rp. 21.000.000,-

1/7 Sapi @ Rp. 3.000.000,-

Kambing

A. Rp. 2.200.000,-

B. Rp. 2.500.000,-

C. Rp. 3.000.000,-

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M

Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke: ✍🏻 Bank Mandiri No. Rek. 139-000-3377-003An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami

*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.

Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700

▪PP. Al-Imam An-Nawawi al-Islami Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.

🔰AMALAN DI BULAN DZULHIJJAH (4)

Ketujuh: Bersedekah
Di antara yang menunjukkan keutamaan bersedekah adalah cita-cita seorang yang sudah melihat ajalnya di depan mata, bahwa jika ajalnya ditangguhkan sebentar saja, maka kesempatan itu akan digunakan untuk bersedekah.

Allah berfirman menceritakan saat-saat seseorang menjelang ajalnya:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkanku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.” (Qs. Al Munaafiquun: 10

Kedelapan: Berqurban
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فصل لربك وانحر

“Maka shalatlah kamu untuk Tuhanmu dan berqurbanlah!” (Qs. Al Kautsar: 2)
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang shalat seperti kita shalat, dan berkurban seperti kita berkurban, maka sungguh dia telah mengerjakan kurban dengan benar. Dan barangsiapa yang menyembelih kurbannya sebelum shalat ‘Idul Adh-ha, maka kurbannya tidak sah.” (HR. Al Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa ibadah kurban itu merupakan kekhususan dan syi’ar yang hanya terdapat di dalam bulan Dzulhijjah
※※※※※※※※※※※※※※※※

Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

Sapi
A. Rp. 18.000.000,-
B. Rp. 20.000.000,-
C. Rp. 21.000.000,-

1/7 Sapi @ Rp. 3.000.000,-

Kambing
A. Rp. 2.200.000,-
B. Rp. 2.500.000,-
C. Rp. 3.000.000,-

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M

Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke:

✍🏻 Bank Mandiri
No. Rek. 139-000-3377-003
An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami

*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.

Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700

▪PP. Al-Imam An-Nawawi al-Islami

Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.

AMALAN DI BULAN DZULHIJJAH (3)

Kelima: Memperbanyak takbir,tahlil dan tahmid

Allah berfirman:

ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (Qs. Al Hajj: 28)
Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Hari-hari yang telah ditentukan adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.”
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Maka perbanyaklah di hari-hari tersebut dengan tahlil, takbir, dan tahmid.” (HR. Ahmad, Shahih)

Keenam: Tilawah Al Qur’an

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

القرآن أفضل الذكر

“Al Qur’an adalah sebaik-baik dzikir.” (HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih)

Adalah hal yang sangat baik jika dalam waktu 10 hari tersebut, kita dapat mengkhatamkan bacaan Al Qur’an dengan membaca 3 juz setiap harinya. Hal ini sebenarnya mudah untuk dilakukan, yaitu dengan memanfaatkan waktu sebelum dan sesudah shalat fardhu. Dengan membaca 3 lembar sebelum shalat dan 3 lembar sesudah shalat, insyaAllah dalam 10 hari kita mampu mengkhatamkan Al Qur’an.

※※※※※※※※※※※※※※※※

Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

Sapi
1/7 Sapi Type A: Rp. 3.250.000
1/7 Sapi Type B: Rp. 2.900.000
1/7 Sapi Type C: Rp. 2.700.000

Kambing: 2,5 Juta – 4 Juta

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M
Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke:
Bank Mandiri
No. Rek. 139-000-3377-003
An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami
*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.

Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700
PPTQ. Al-Imam An-Nawawi al-Islami
Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.

Visitasi Kesehatan Santri

Untuk memantau kesehatan Santri, PPTQ An-Nawawi kedatangan tim kesehatan dari RS.Harapan Sehat Slawi.

Beberapa pekan sebelumnya para Santri melakukan rapid test di Slawi.

Ikhtiar kami maksimalkan, terima kasih atas kerjasama, dukungan dan doa untuk kebaikan kita bersama.

KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH (2)

BULETIN AL-IMAN
Diantara Keutamaan Bulan Dzulhijjah selain yang sudah disebutkan adalah:

3. *Darah-darah hewan kurban ditumpahkan terbanyak di bulan Dzulhijjah*
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أفضل الحج العج والثج
“Sebaik-baik pelaksanaan haji adalah yang paling banyak bertalbiyah dan yang paling banyak berhadyu (menyembelih hewan sebagai hadiah untuk fuqara’ Makkah -pen).” (HR. Abu Ya’la, An Nasaa’i, Al Haakim, dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albaani menilai hadits ini hasan)
Bulan Dzulhijjah selain sebagai bulan haji juga disebut sebagai bulan kurban, karena banyaknya hewan kurban yang disembelih pada bulan tersebut.

4. *Amalan-amalan sholih di awal bulan Dzulhijjah dapat mengalahkan pahala jihad di jalan Allah*
Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan,
« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».
“Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah pun tidak bisa mengalahkan kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali sedikit pun.” (HR. Abu Daud no. 2438, At Tirmidzi no. 757, Ibnu Majah no. 1727, dan Ahmad no. 1968, dari Ibnu ‘Abbas. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)
※※※※※※※※※※※※※※※※
Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

Sapi
1/7 Sapi Type A: Rp. 3.250.000
1/7 Sapi Type B: Rp. 2.900.000
1/7 Sapi Type C: Rp. 2.700.000

Kambing: 2,5 Juta – 4 Juta

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M
Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke:
Bank Mandiri
No. Rek. 139-000-3377-003
An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami
*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.
Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700
PPTQ. Al-Imam An-Nawawi al-Islami
Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.

AMALAN DI BULAN DZULHIJJAH (1)

BULETIN AL-IMAN

Pertama: Puasa

Disunnahkan untuk memperbanyak puasa dari tanggal 1 hingga 9 Dzulhijah karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong kita untuk beramal sholeh ketika itu dan puasa adalah sebaik-baiknya amalan sholeh.

Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَالْخَمِيسَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada sembilan hari awal Dzulhijah, pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram), berpuasa tiga hari setiap bulannya, …(HR. Abu Daud no. 2437. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Di antara sahabat yang mempraktekkan puasa selama sembilan hari awal Dzulhijah adalah Ibnu ‘Umar. Ulama lain seperti Al Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin dan Qotadah juga menyebutkan keutamaan berpuasa pada hari-hari tersebut. Inilah yang menjadi pendapat mayoritas ulama.

Kedua: Takbir dan Dzikir

Yang termasuk amalan sholeh juga adalah bertakbir, bertahlil, bertasbih, bertahmid, beristighfar, dan memperbanyak do’a. Disunnahkan untuk mengangkat (mengeraskan) suara ketika bertakbir di pasar, jalan-jalan, masjid dan tempat-tempat lainnya.

Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan,

وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِى أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ أَيَّامُ الْعَشْرِ ، وَالأَيَّامُ الْمَعْدُودَاتُ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ وَأَبُو هُرَيْرَةَ يَخْرُجَانِ إِلَى السُّوقِ فِى أَيَّامِ الْعَشْرِ يُكَبِّرَانِ ، وَيُكَبِّرُ النَّاسُ بِتَكْبِيرِهِمَا . وَكَبَّرَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ خَلْفَ النَّافِلَةِ .

Ibnu ‘Abbas berkata, “Berdzikirlah kalian pada Allah di hari-hari yang ditentukan yaitu 10  hari pertama Dzulhijah dan juga pada hari-hari tasyriq.” Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah pernah keluar ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijah, lalu mereka bertakbir, lantas manusia pun ikut bertakbir. Muhammad bin ‘Ali pun bertakbir setelah shalat sunnah.

※※※※※※※※※※※※※※※※

Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

Sapi
1/7 Sapi Type A: Rp. 3.250.000
1/7 Sapi Type B: Rp. 2.900.000
1/7 Sapi Type C: Rp. 2.700.000

Kambing: 2,5 Juta – 4 Juta

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M
Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke:
Bank Mandiri
No. Rek. 139-000-3377-003
An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami
*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.

Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700
PPTQ. Al-Imam An-Nawawi al-Islami
Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.

Kaidah Waqof & Ibtida’ Bag. 5

Rahasia dibalik Waqof Lazim

Jika kaidah sebelumnya kerap menyinggung waqof yang tidak tepat atau dinamakan dengan waqof qobih, maka kali ini akan membahas seputar waqof yang sangat dianjurkan atau bahkan diharuskan. Itu artinya, saat seseorang membaca Al-Quran dan melewati ayat yang memenuhi kriteria ini, maka hendaknya ia berhenti, alias tidak menyambugkannya dengan kalimat selanjutnya.

Ibnul Jazari rohimahulloh pernah menyebutkan kaidah ini dalam matan Al-Jazariyah:

وليس في القرآن من وقف وجب

ولا حرام غير ما له سبب

Tak ada waqof wajib maupun harom dalam Al-Quran kecuali karena terdapat alasan tertentu yang mengharuskannya

Tulisan Ibnul Jazari rohimahulloh diatas dengan jelas menggambarkan bahwa tidak terdapat waqof wajib/lazim yang membuat seseorang berdosa saat meninggalkannya, kecuali karena jika ia melanjutkan bacaan tanpa waqof, maka dapat menyebabkan perubahan pada makna yang terkandung didalamnha. Pun begitu kasusnya untuk waqof yang haram sebagaimana pernah kita singgung pada kaidah-kaidah sebelumnya.

Contoh Waqof Lazim

Firman Allah ta’ala pada surat Ali Imron:

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُوا۟ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِیَاۤءَ بِغَیۡرِ حَقࣲّ وَنَقُولُ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلۡحَرِیقِ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar”. (Ali Imron: 181)

Waqof Lazim pada ayat diatas terletak pada lafadz ُ أَغۡنِیَاۤءُۘ , sehingga saat membaca ayat diatas kita dianjurkan untuk berhenti pada lafadz tersebut alias tidak menyambungnya dengan satu nafas.

Alasannya ialah agar kita memisahkan antara perkataan orang-orang Yahudi yang Allah ceritakan pada ayat tersebut dengan Jawaban Allah subhanahu wata’ala atas ucapan serta perbuatan mereka.

Perkataan orang-orang Yahudi yang dimaksud adalah:

إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ

sedangkan jawaban Allah ta’ala atas mereka dimulai pada lafadz setelahnya, yaitu:

سَنَكۡتُبُ مَا قَالُوا۟ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِیَاۤءَ بِغَیۡرِ حَقࣲّ وَنَقُولُ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلۡحَرِیقِ

Sebab jika kita tidak memisahkan dengan cara waqof antara dua kalimat ini, maka seakan-akan seluruh perkataan yang pada ayat tersebut, mulai dari lafadz إِنَّ ٱللَّهَ hingga akhir ayat merupakan perkataan orang Yahudi, padahal tidak demikian adanya.

Contoh lainnya terdapat pada surat Al-Qomar:

فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡۘ یَوۡمَ یَدۡعُ ٱلدَّاعِ إِلَىٰ شَیۡءࣲ نُّكُرٍ

Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan),

Waqof lazim yang pada ayat diatas terletak pada lafadz فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡۘ (Maka berpalinglah dari mereka).

Alasannya ialah karena antara kalimat tersebut dengan lafadz setelahnya tidak memiliki hubungan secara makna. Dan justru malah bisa merubah makna yang ada jika dibaca tanpa waqof.

Sebab saat dibaca sambung maka maknanya akan menjadi:

“Maka berpalinglah dari mereka di hari ketika Malaikat menyeru pada hari pembalasan”

Padahal keterang waktu “di hari ketika Malaikat menyeru pada hari pembalasan” bukan keterangan pelengkap untuk kalimat “Maka berpalinglah dari mereka”. Melainkan keterangan waktu untuk ayat selanjutnya yang berbunyi:

sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan (Al-Qomar: 7)

Dalam mushaf Al-Quran, waqof lazim ditandai dengan huruf mim, perhatikan gambar terlampir

Referensi:

Al-Muktafa, Ad-Dani

Matan Al-Jazariyah

Penulis : Ust. Afit Iqwanudin, Lc.

Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah. Sempat juga kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2014.

KEUTAMAAN BULAN DZULHIJJAH (1)

BULETIN AL-IMAN

Sebentar lagi musim haji akan tiba. Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan yang dimuliakan di dalam Islam. Allah سبحانه و تعالى berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzhalimi dirimu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa.” (Qs. At Taubah: 36)

Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السموات والأرض، السنة اثنا عشر شهرا، منها أربعة حرم، ثلاثة متواليات: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم، ورجب مضر، الذي بين جمادى وشعبان

“Sesungguhnya waktu itu berputar sebagaimana keadaannya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada 4 bulan yang haram (berperang di dalamnya – pen). 3 bulan berturut-turut, yaitu: Dzulqadah, Dzulhijjah, Al Muharram, (dan yang terakhir –pen) Rajab Mudhar, yaitu bulan di antara bulan Jumaada dan Syaban.” (HR. Al Bukhari)

Berikut ini di antara keutamaan bulan Dzulhijjah:

1. Islam disempurnakan oleh Allah pada bulan Dzulhijjah

Allah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku telah meridhai Islam itu agama bagi kalian.” (Qs. Al Maidah: 3)

Para ulama sepakat bahwa ayat itu turun di bulan Dzulhijjah saat haji wada di hari Arafah. Hal ini berdasarkan atsar dari Umar bin Al Khaththaab radhiyallaahi anhu, bahwasanya seorang ulama Yahudi berkata kepada Umar, “Wahai Amiirul Muminiin, tahukah engkau satu ayat dalam kitab suci kalian yang kalian baca, yang jika seandainya ayat itu turun kepada kami maka kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai hari raya.” Umar berkata, “Ayat apakah itu?” Yahudi itu membacakan ayat tersebut, “Al yauma akmaltu lakum…” Umar pun berkata, “Sungguh kami telah mengetahui di mana dan kapan ayat itu turun. Ayat itu turun pada saat Nabi sedang berada di padang Arafah di hari Jum’at.” (HR. Al Bukhari)

2. Puasa Arafah adalah di antara kekhususan umat Islam

Di dalam bulan Dzulhijjah ada sebuah hari yang sangat agung, yaitu hari Arafah. Pada hari tersebut disunnahkan bagi yang tidak sedang melaksanakan haji untuk melakukan puasa. Puasa Arafah dapat menggugurkan dosa-dosa selama dua tahun. Pahala puasa Arafah (9 Dzulhijjah) lebih afdhal daripada pahala puasa Asyura (10 Al Muharram).

Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

صوم عاشوراء يكفر السنة الماضية وصوم عرفة يكفر السنتين الماضية والمستقبلة (رواه النسائي)

“Puasa Asyura dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu, dan puasa Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. An Nasaa’i)

Puasa Arafah termasuk keistimewaan ummat Islam, berbeda halnya dengan puasa Asyura. Oleh karena berkahnya Rasulullaah shallallaahu alaihi wa sallam, Allah melipatgandakan penghapusan dosa dalam puasa Arafah dua kali lipat lebih besar daripada puasa Asyura. Walillaahil hamd.

※※※※※※※※※※※※※※※※

Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

Sapi
1/7 Sapi Type A: Rp. 3.250.000
1/7 Sapi Type B: Rp. 2.900.000
1/7 Sapi Type C: Rp. 2.700.000

Kambing: 2,5 Juta – 4 Juta

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M

Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke:

Bank Mandiri

No. Rek. 139-000-3377-003

An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami

*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.

Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700

PPTQ. Al-Imam An-Nawawi al-Islami

Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.

AMALAN DI BULAN DZULHIJJAH (2)

Ketiga: Menunaikan Haji dan Umroh

Yang paling afdhol ditunaikan di sepuluh hari pertama Dzulhijah adalah menunaikan haji ke Baitullah.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما والحج المبرور ليس له جزاء إلا الجنة

“Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa yang dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah Surga“ (HR. Bukhori dan Muslim).

Keempat: Bertaubat

Termasuk yang ditekankan pula di awal Dzulhijah adalah bertaubat dari berbagai dosa dan maksiat serta meninggalkan tindak zholim terhadap sesama. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ان الله يغار وغيرة الله أن يأتي المرء ما حرم الله علي “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya” [Hadits Muttafaqun ‘Alaihi].

※※※※※※※※※※※※※※※※

Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

1/7 Sapi Type A: Rp. 3.250.000

1/7 Sapi Type B: Rp. 2.900.000

1/7 Sapi Type C: Rp. 2.700.000

Kambing: 2,5 Juta – 4 Juta

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M

Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke: ✍🏻 Bank Mandiri No. Rek. 139-000-3377-003An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami

*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.

Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700

▪PP. Al-Imam An-Nawawi al-Islami Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.