Kaidah Waqof & Ibtida’ Bag. 6

Dianjurkan Waqof pada Ha’ Saktah

Diantara kebiasaan bangsa arab dalam berbicara adalah mereka tidak memulai sebuah kata dengan huruf sukun serta tidak mengakhiri sebuah kalimat dengan huruf yang berharokat. Oleh karenanya saat terdapat sebuuah kata yang berawalan huruf sukun, maka akan ditambahkan hamzah washol di depannya, seperti (انْصُرْ) dan semisalnya. Sedangkan untuk mengatasi sebuah kalimat agar mudah diucapkan dan didengar saat berhenti, maka terkadang ditambahkanlah Ha’ saktah.

Definisi dari Ha Saktah sendiri adalah:

وهي هاءٌ ساكنةٌ تلحقُ طائفةً من الكلمات عندَ الوقفِ

“Huruf ha’ yang ditambahkan pada berbagai kalimat saat waqof”

Sebagaimana definisi diatas, Ha’ tersebut ditambahkan di akhir kata alias saat berhenti/waqof pada sebuah kata. Sehingga ia tidak dijumpai di tengah-tengah kalimat. Dalam Al-Quran sendiri terdapat beberapa kalimat yang ditambahkan Ha’ Saktah ini, yaitu:

Pertama: Lafadz (يتسنه) di surat Al-Baqoroh ayat 259

أَوۡ كَٱلَّذِی مَرَّ عَلَىٰ قَرۡیَةࣲ وَهِیَ خَاوِیَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ یُحۡیِۦ هَـٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِا۟ئَةَ عَامࣲ ثُمَّ بَعَثَهُۥۖ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ یَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ یَوۡمࣲۖ قَالَ بَل لَّبِثۡتَ مِا۟ئَةَ عَامࣲ فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ یَتَسَنَّهۡۖ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ ءَایَةࣰ لِّلنَّاسِۖ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَیۡفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡمࣰاۚ فَلَمَّا تَبَیَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءࣲ قَدِیرࣱه

Kedua: Lafadz (اقتده) di surat Al-An’am ayat 90

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ ٱلَّذِینَ هَدَى ٱللَّهُۖ فَبِهُدَىٰهُمُ ٱقۡتَدِهۡۗ قُل لَّاۤ أَسۡـَٔلُكُمۡ عَلَیۡهِ أَجۡرًاۖ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرَىٰ لِلۡعَـٰلَمِینَ

Ketiga: Lafadz (كتابيه) di surat Al-Haqqoh ayat 19 & 25

فَأَمَّا مَنۡ أُوتِیَ كِتَـٰبَهُۥ بِیَمِینِهِۦ فَیَقُولُ هَاۤؤُمُ ٱقۡرَءُوا۟ كِتَـٰبِیَهۡ

وَأَمَّا مَنۡ أُوتِیَ كِتَـٰبَهُۥ بِشِمَالِهِۦ فَیَقُولُ یَـٰلَیۡتَنِی لَمۡ أُوتَ كِتَـٰبِیَهۡ

Keempat: Lafadz (حسابيه) di surat Al–Haqqoh ayat 20 & 26

إِنِّی ظَنَنتُ أَنِّی مُلَـٰقٍ حِسَابِیَهۡ

وَلَمۡ أَدۡرِ مَا حِسَابِیَهۡ

Kelima: Lafadz (ماليه) di surat Al-Haqqoh ayat 28

مَاۤ أَغۡنَىٰ عَنِّی مَالِیَهۡۜ

Keenam: Lafadz (سلطانية) di surat Al-Haqqoh ayat 29

هَلَكَ عَنِّی سُلۡطَـٰنِیَهۡ

Ketuju: Lafadz (ماهية) di surat Al-Qori’ah ayat 10

وَمَاۤ أَدۡرَىٰكَ مَا هِیَهۡ

Saat seseorang membaca Al-Quran dan melewati kalimat-kalimat yang memiliki Ha’ Saktah diatas, maka ia dianjurkan untuk berhenti/waqof, sebagaimana alasan yang telah kami sampaikan diatas.

Wallahu a’lam.

Referensi:

Al-Muktafa, Ad-Dani

Penulis : Ust. Afit Iqwanudin, Lc Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah. Sempat juga kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2014.

🔰AMALAN DI BULAN DZULHIJJAH (4)

Ketujuh: Bersedekah
Di antara yang menunjukkan keutamaan bersedekah adalah cita-cita seorang yang sudah melihat ajalnya di depan mata, bahwa jika ajalnya ditangguhkan sebentar saja, maka kesempatan itu akan digunakan untuk bersedekah.

Allah berfirman menceritakan saat-saat seseorang menjelang ajalnya:

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkanku sampai waktu yang dekat, sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih.” (Qs. Al Munaafiquun: 10

Kedelapan: Berqurban
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فصل لربك وانحر

“Maka shalatlah kamu untuk Tuhanmu dan berqurbanlah!” (Qs. Al Kautsar: 2)
Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang shalat seperti kita shalat, dan berkurban seperti kita berkurban, maka sungguh dia telah mengerjakan kurban dengan benar. Dan barangsiapa yang menyembelih kurbannya sebelum shalat ‘Idul Adh-ha, maka kurbannya tidak sah.” (HR. Al Bukhari)
Ini menunjukkan bahwa ibadah kurban itu merupakan kekhususan dan syi’ar yang hanya terdapat di dalam bulan Dzulhijjah
※※※※※※※※※※※※※※※※

Berkurban Di PPTQ. Al-Imam an-Nawawi dan Desa-Desa Sekitar Kaki Gunung Slamet

Sapi
A. Rp. 18.000.000,-
B. Rp. 20.000.000,-
C. Rp. 21.000.000,-

1/7 Sapi @ Rp. 3.000.000,-

Kambing
A. Rp. 2.200.000,-
B. Rp. 2.500.000,-
C. Rp. 3.000.000,-

Pembangunan 5 Asrama Santri Rp. 1,4 M

Asrama Atap Dak beton atau berpartisipasi mengirim bahan-bahan bangunan seperti pasir, batu cor, besi dll.

Silahkan Transfer ke:

✍🏻 Bank Mandiri
No. Rek. 139-000-3377-003
An. Ponpes Al Imam An Nawawi Al Islami

*Mohon tambahkan 500 diakhir nominal.

Konfirmasi wa : 081215366787 – 082135770700

▪PP. Al-Imam An-Nawawi al-Islami

Jl. Raya Batu Agung RT 13 RW 3 Batu Agung Kecamatan Balapulang Kabupaten Tegal.

Visitasi Kesehatan Santri

Untuk memantau kesehatan Santri, PPTQ An-Nawawi kedatangan tim kesehatan dari RS.Harapan Sehat Slawi.

Beberapa pekan sebelumnya para Santri melakukan rapid test di Slawi.

Ikhtiar kami maksimalkan, terima kasih atas kerjasama, dukungan dan doa untuk kebaikan kita bersama.

Kaidah Waqof & Ibtida’ Bag. 5

Rahasia dibalik Waqof Lazim

Jika kaidah sebelumnya kerap menyinggung waqof yang tidak tepat atau dinamakan dengan waqof qobih, maka kali ini akan membahas seputar waqof yang sangat dianjurkan atau bahkan diharuskan. Itu artinya, saat seseorang membaca Al-Quran dan melewati ayat yang memenuhi kriteria ini, maka hendaknya ia berhenti, alias tidak menyambugkannya dengan kalimat selanjutnya.

Ibnul Jazari rohimahulloh pernah menyebutkan kaidah ini dalam matan Al-Jazariyah:

وليس في القرآن من وقف وجب

ولا حرام غير ما له سبب

Tak ada waqof wajib maupun harom dalam Al-Quran kecuali karena terdapat alasan tertentu yang mengharuskannya

Tulisan Ibnul Jazari rohimahulloh diatas dengan jelas menggambarkan bahwa tidak terdapat waqof wajib/lazim yang membuat seseorang berdosa saat meninggalkannya, kecuali karena jika ia melanjutkan bacaan tanpa waqof, maka dapat menyebabkan perubahan pada makna yang terkandung didalamnha. Pun begitu kasusnya untuk waqof yang haram sebagaimana pernah kita singgung pada kaidah-kaidah sebelumnya.

Contoh Waqof Lazim

Firman Allah ta’ala pada surat Ali Imron:

لَّقَدۡ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوۡلَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ سَنَكۡتُبُ مَا قَالُوا۟ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِیَاۤءَ بِغَیۡرِ حَقࣲّ وَنَقُولُ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلۡحَرِیقِ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar”. (Ali Imron: 181)

Waqof Lazim pada ayat diatas terletak pada lafadz ُ أَغۡنِیَاۤءُۘ , sehingga saat membaca ayat diatas kita dianjurkan untuk berhenti pada lafadz tersebut alias tidak menyambungnya dengan satu nafas.

Alasannya ialah agar kita memisahkan antara perkataan orang-orang Yahudi yang Allah ceritakan pada ayat tersebut dengan Jawaban Allah subhanahu wata’ala atas ucapan serta perbuatan mereka.

Perkataan orang-orang Yahudi yang dimaksud adalah:

إِنَّ ٱللَّهَ فَقِیرࣱ وَنَحۡنُ أَغۡنِیَاۤءُۘ

sedangkan jawaban Allah ta’ala atas mereka dimulai pada lafadz setelahnya, yaitu:

سَنَكۡتُبُ مَا قَالُوا۟ وَقَتۡلَهُمُ ٱلۡأَنۢبِیَاۤءَ بِغَیۡرِ حَقࣲّ وَنَقُولُ ذُوقُوا۟ عَذَابَ ٱلۡحَرِیقِ

Sebab jika kita tidak memisahkan dengan cara waqof antara dua kalimat ini, maka seakan-akan seluruh perkataan yang pada ayat tersebut, mulai dari lafadz إِنَّ ٱللَّهَ hingga akhir ayat merupakan perkataan orang Yahudi, padahal tidak demikian adanya.

Contoh lainnya terdapat pada surat Al-Qomar:

فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡۘ یَوۡمَ یَدۡعُ ٱلدَّاعِ إِلَىٰ شَیۡءࣲ نُّكُرٍ

Maka berpalinglah kamu dari mereka. (Ingatlah) hari (ketika) seorang penyeru (malaikat) menyeru kepada sesuatu yang tidak menyenangkan (hari pembalasan),

Waqof lazim yang pada ayat diatas terletak pada lafadz فَتَوَلَّ عَنۡهُمۡۘ (Maka berpalinglah dari mereka).

Alasannya ialah karena antara kalimat tersebut dengan lafadz setelahnya tidak memiliki hubungan secara makna. Dan justru malah bisa merubah makna yang ada jika dibaca tanpa waqof.

Sebab saat dibaca sambung maka maknanya akan menjadi:

“Maka berpalinglah dari mereka di hari ketika Malaikat menyeru pada hari pembalasan”

Padahal keterang waktu “di hari ketika Malaikat menyeru pada hari pembalasan” bukan keterangan pelengkap untuk kalimat “Maka berpalinglah dari mereka”. Melainkan keterangan waktu untuk ayat selanjutnya yang berbunyi:

sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan mereka belalang yang beterbangan (Al-Qomar: 7)

Dalam mushaf Al-Quran, waqof lazim ditandai dengan huruf mim, perhatikan gambar terlampir

Referensi:

Al-Muktafa, Ad-Dani

Matan Al-Jazariyah

Penulis : Ust. Afit Iqwanudin, Lc.

Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah. Sempat juga kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2014.

Kaidah Ilmu Waqof & Ibtida’ Bag. 4

Waqof pada Akhir Ayat adalah Sunnah

Diantara hal penting yang menyita perhatian para ulama Qiroat adalah permasalahan waqof pada akhir ayat. Dalil utama dalam masalah ini adalah sebuah Hadits yang diriwayatkan oeh Ummu Salamah rhodiyallohu ‘anha:

كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يقطعُ قراءتَه: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Rasululloh shollallohu ‘alaihi wasallam biasa memotong-motong bacaan beliau (tiap akhir ayat), بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (berhenti) الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (berhenti) الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (berhenti) مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

(HR Daruquthni)

Hadts diatas dengan jelas menggambarkan bagaimana metode Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dalam membaca Al-Quran, yaitu dengan berhenti pada tiap ayat, alias tidak menggabungkan satu ayat dengan yang lain.

Imam Ibnul Jazari rohimahulloh menuturkan dalam kitab beliau yang bernama An-Nasyr bahwasanya sebagian ulama menganggap berhenti pada akhir tiap ayat merupakan sebuah sunnah, diantaranya adalah Imam Ad-Dani dan Imam Al-Baihaqi.

Bagaimana jika terdapat 2 ayat yang memiliki keterikatan yang amat kuat?

Terkadang kita dapati antara satu ayat dengan yang lainnya memiliki hubungan dan keterikatan yang amat kuat. Jika antara keduanya dipisahkan, maka makna yang ada dapat berubah. Contoh mudahnya adalah firman Allah ta’ala pada surat Al-Ma’un ayat 4 dan 5:

فَوَیۡلࣱ لِّلۡمُصَلِّینَ * ٱلَّذِینَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ

Maka celakalah orang-orang yang sholat * yaitu mereka yang lalai dari sholatnya

Cukup jelas bahwa hubungan antara kedua ayat diatas amatlah kuat. Sebab jika kita hanya membaca ayat keempat saja maka akan melahirkan makna bahwa setiap orang yang melaksanakan sholat akan celaka, padahal tidak demikian.

Berawal dari kasus diatas, sebagian ulama kemudian berpendapat bahwa saat terdapat 2 ayat atau lebih yang memiliki hubungan kuat, maka tidak disarankan untuk berhenti.

Namun mayoritas ulama qiroat tetap memilih pendapat bahwa waqof pada akhir ayat lebih utama dalam keadaan apapun. Diantara ulama yang mengambil pendapat ini adalah Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh. Dalam kitabnya beliau juga menyebutkan pendapat serupa dari Imam Az-Zuhri dan Imam Al-Baihaqi rohimahumulloh. Salah satu alasannya adalah:

وَاتِّبَاعُ هَدْيِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسُنَّتِهِ أَوْلَى

Mengikuti petunjuk dan sunnah Nabi Muhammad sholallohu ‘alaihi wasallam adalah sikap yang lebih tepat.

Kesimpulan

Satu: Waqof pada akhir ayat merupakan sunnah sesuai pendapat mayoritas ahli Qiroat. Para ulama tersebut juga menjelaskan bahwa keadaan yang dilarang dalam kasus 2 ayat yang berhubungan kuat adalah jika seseorang berhenti pada ayat pertama, contohnya ayat keempat surat Al-Ma’un, kemudian tidak melanjutkan bacaannya sama sekali. Alias orang tersebut beralih pada aktifitas lain tanpa membaca ayat ke-5. Namun jika berhenti hanya sekedar mengambil nafas, maka tidak masuk pada larangan yang dimaksud, bahkan hal tersebut merupakan sikap yang lebih utama.

Dua: Terdapat jalan tengah untuk menggabungkan dua pendapat diatas, yaitu dengan cara berhenti pada akhir ayat, kemudian mengulangi ayat tersebut dan menyambungkannya dengan ayat setelahnya.

Contoh penerapannya adalah: berhenti pada ayat keempat di surat Al-Ma’un:

فَوَیۡلࣱ لِّلۡمُصَلِّینَ

Kemudian mengulangi ayat keempat dan menyambungkannya dengan ayat kelima sekaligus, sehingga menjadi:

فَوَیۡلࣱ لِّلۡمُصَلِّینَ ٱلَّذِینَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ

Tiga: Kaidah ini dalam bahasa arab berbunyi:

الوقف على رؤوس الآي سنة

Empat: Meskipun lebih utama, namun berhenti pada tiap ayat bukanlah sebuah keharusan. Artinya, kita tetap boleh menggabungkan 2 ayat atau lebih meskipun keduanya tidak terhubung secara makna. Hal ini dengan beberapa catatan yang insyaAllah akan kami jelaskan pada kaidah selanjutnya.

Wallahu a’lam.

Referensi:

Al-Muktafa, Ad-Dani

Zadul Ma’ad, Ibnul Qoyyim

Penulis : Ust. Afit Iqwanuddin, Lc Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah. Sempat juga kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2014.

Kaidah Waqof & Ibtida’ Bag. 3

“Jika Terjatuh pada Waqof Qobih, maka segera Ulangi Bacaan Anda”

Maksud dari kaidah ketiga ini adalah siapa saja yang berhenti pada waqof qobih karena ketidak sengajaan, entah karena nafas habis, tersedak atau semisalnya, maka ia diharuskan mengulangi ayat yang ia baca dari waqof yang tepat. Kaidah ini dalam bahasa arab diungkapkan dengan:

كل من وقف وقفا قبيحا لانقطاع نفسه وجب عليه أن يرجع إلى ما قبله فيبتدئ به

Perhatikan contoh penerapan kaidah diatas berikut ini:

Jika seseorang tanpa sengaja berhenti pada lafadz:

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟

Maka ia tidak boleh langsung melanjutkan dengan lafadz setelahnya, yaitu:

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِیحُ ٱبۡنُ مَرۡیَمَۚ

Sebab waqof jenis ini masuk kategori waqof yang sangat buruk. Lantas apa yang harus ia lakukan?

Jawabannya ialah ia harus mengulang dari lafadz sebelumnya, sehingga maknanya tidak terputus serta berubah. Maka dia harus memulai dari awal ayat sehingga menjadi:

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِیحُ ٱبۡنُ مَرۡیَمَۚ

Hal serupa hendaknya diterapkan pada waqof-waqof qobih lainnya jika memang kita terjatuh pada waqof tersebut. Hal ini bertujuan agar makna yang terkandung dalam Al-Quran tidak berubah karena kesalahan waqof yang kita buat saat membacanya.

Semoga Allah ta’ala mengaruniakan kepada kita ilmu yang bermanfaat. Amin

Referensi:

Al-Muktafa, Ad-Dani

Penulis : Ust. Afit Iqwanuddin, Lc

Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah. Sempat juga kuliah di Universitas Amikom Yogyakarta hingga lulus pada tahun 2014.

Kaidah Ilmu Waqof & Ibtida Bag. 2

Waqof Terbagi Menjadi 4 Macam

Kaidah kedua:

كُلُّ وَقْفٍ فِي القُرْآنِ لَا يَخْرُجُ عَنْ أَرْبَعَةِ أَنْوَاعٍ : تَام، كَاف، حَسَن وَقَبِيح

“Setiap waqof pada Al-Quran tidak akan lepas dari 4 jenis Waqof :

1. Waqof Tam

2. Waqof Kafi

3. Waqof Hasan

4. Waqof Qobih

Urutan diatas merupakan urutan dari jenis waqof yang terbaik hingga yang tidak dibolehkan. Pembagian ini sendiri merupakan pendapat yang paling masyhur diantara para ulama. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

Waqof Tam

Definisi dari waqof ini adalah:

Waqof tam merupakan jenis waqof yang terbaik. Definisi dari waqof ini ialah:

Berhenti pada suatu lafadz Al-Quran yang tidak memiliki kaitan dengan kalimat setelahnya baik secara lafadz maupun makna.

Jenis waqof ini sendiri banyak kita dapati di akhir surat, akhir kisah serta akhir pembahasan, sebab pada keadaan seperti inilah suatu topik yang dibahas telah selesai.

Diantara contohnya adalah surat Al-Baqoroh ayat 5 :

أُو۟لَـٰۤىِٕكَ عَلَىٰ هُدࣰى مِّن رَّبِّهِمۡۖ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Ayat diatas merupakan akhir pembahasan sifat orang-orang beriman yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan di awal surat Al Baqoroh. Adapun ayat setelahnya memulai pembahasan yang berbeda, yaitu seputar sifat orang-orang kafir.

Hal serupa juga kita dapati pada ayat 25 :

وَلَهُمۡ فِیهَاۤ أَزۡوَ ٰ⁠جࣱ مُّطَهَّرَةࣱۖ وَهُمۡ فِیهَا خَـٰلِدُونَ

Masing-masing akhir ayat diatas merupaka contoh waqof tam karena memang sudah tidak memiliki kaitan dengan ayat selanjutnya baik secara lafadz ataupun makna.

Faidah tambahan :

Hendaknya saat seseorang membaca Al-Quran ia berusaha mengakhiri bacaannya pada waqof tam sebelum ia berpindah pada aktifitas yg lain. Hal ini bertujuan agar saat ia selesai membaca Al-Quran, ia telah menyempurnakan makna yang ada pada ayat tersebut.

Sehingga ketika nanti atau keesokan harinya ia kembali melanjutkan bacaan Al-Quran, ayat yg dibaca masuk pada pembahasan baru yg tidak berkaitan dengan ayat yang ia baca pada hari sebelumnya. Pun begitu saat seseorang melaksanakan sholat, hendaknya ia tidak ruku’ kecuali setelah menutup bacaannya dengan waqof tam. Hal ini merupakan bagian dari adab membaca Al-Quran.

Waqof Kafi

Waqof yg menempati urutan kedua adalah waqof kafi. Definisinya sendiri ialah:

Berhenti pada suatu kalimat yangg tak lagi memiliki kaitan dengan kalimat setelahnya dari sisi lafadz, meskipun masih terikat dari sisi makna.

Maksud “sisi lafadz” sendiri ialah dari kacamata ilmu nahwu. Hal ini berarti keduanya telah berdiri sendiri alias tak lagi saling berkaitan dari segi i’robnya.

Mari kita lihat bersama beberapa contoh penerapannya agar lebih mudah dipahami.

Surat Al Baqoroh ayat 2 :

هُدࣰى لِّلۡمُتَّقِینَ

Waqof pada akhir ayat ke-2 ini mendapat predikat waqof kafi lantaran ayat setelahnya masih memiliki kaitan dari segi makna. Sebab ayat ke-3 merupakan penjelasan seputar sifat orang-orang bertakwa yg disebutkan pada ayat ke-2 diatas.

Pertengahan surat Al-Baqoroh ayat 9 :

یُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟

Waqof pada pertengahan ayat kesembilan ini juga masuk kategori waqof kafi. Sebab kalimat setelahnya masih memiliki kaitan makna, yaitu berupa penjelasan lanjutan seputar keadaan orang-orang munafik.

Waqof Hasan

Waqof jenis ketiga adalah waqof Hasan. Gambaran mudah untuk waqof ini adalah:

Berhenti pada suatu kata yang masih memiliki kaitan erat dengan kata selanjutnya baik secara lafadz(nahwu) maupun secara makna. Namun berhenti pada kata tersebut sudah cukup memberikan faida. Hanya saja tidak boleh langsung melanjutkan dengan kata setelahnya, akan tetapi harus mengulang dari tempat yang tepat sebelumnya.

Contoh mudahnya adalah berhenti di ayat kedua surat Al-Fatihah pada lafadz:

الحمد لله

Waqof pada lafadz diatas terhitung hasan, sebab meskipun memiliki kaitan yg erat, ia sudah cukup memberikan faidah. Namun jika seseorang berhenti demikian, ia tidak diperkenankan untuk langsung membaca kata setelahnya:

رب العلمين

Akan tetapi ia harus mengulang kata sebelumnya sehingga menjadi:

الحمد لله رب العلمين

Catatan Tambahan:

Dalam waqof hasan ini terdapat pengecualian, yaitu saat waqof hasan terletak pada akhir ayat. Maka dalam kasus ini ia boleh langsung melanjutkan dengan kata setelahnya. Hal ini dikarenakan ada sebuah kaidah lain yang berbunyi:

الوقف على رؤوس الآي سنة

“Waqof pada akhir ayat merupakan suatu hal yg disunnahkan”

Contoh penerapannya adalah antara ayat kedua dan ketiga di surat Al-Fatihah:

الحمد لله رب العلمين

الرحمن الرحيم

Perlu dipahami bahwa berhenti pada akhir ayat kedua masuk dalam kategori waqof hasan, sebab ayat ketiga (الرحمن الرحيم) memiliki kedudukan yg sama dengan (رب العلمين). Namun berhenti pada ayat kedua dan langsung memulai dengan ayat ketiga dibenarkan lantaran adanya kaidah diatas.

Waqof Qobih

Definisi waqof qobih adalah:

Berhenti pada suatu lafadz yang tidak bisa dipahami maknanya atau justru merubah dan merusak makna yang ada.

Para ulama sejak zaman terdahulu sudah mewanti-wanti siapa saja yang membaca Al-Quran agar tidak terjatuh pada jenis waqof yang satu ini. Sebab hal tersebut bisa merusak makna ayat yang ada. Oleh sebab itu waqof ini dinamakan dengan Qobih (buruk/jelek).

Diantara contohnya adalah pada surat Al-Maidah ayat 17, berhenti pada lafadz:

لَّقَدۡ كَفَرَ ٱلَّذِینَ قَالُوۤا۟

Kemudian langsung melanjutkan dengan kalimat setelahnya:

إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡمَسِیحُ ٱبۡنُ مَرۡیَمَۚ

Maka dalam hal ini makna dari ayat tersebut menjadi berubah 180 derajat.

Penutup

Ilmu waqof dan Ibtida merupakan bumbu yang amat penting dalam membaca Al-Quran. Ia mampu memberikan cita rasa istimewa bukan hanya bagi orang yang membaca, akan tetapi juga bagi mereka yang mendengarkan.

Saat menguasainya, seseorang akan merasa terpana dengan pemilihan waqof para Imam ternama di shalat-shalat mereka. Telinga dan pikiran benar-benar termanjakan, seakan hidangan Al-Quran berada di hadapannya lengkap dengan tafsirnya.

Wallahu a’lam.

Referensi :

Al Muktafa, Abu ‘Amr Ad Dani

Al Wajiz, Ghonim Qodduri

Penulis : Ust. Afit Iqwanuddin, Lc.

(Alumni Ponpes Hamalatul Quran dan mahasiswa pascasarjana jurusan Ilmu Qiraat, Fakultas Al Quran, Universitas Islam Madinah)

Kaidah Waqof & Ibtida’ Bag. 1

Kaidah 1 : Waqof adalah Tafsir

Jika dalam Ilmu Fiqh, Ilmu Hadits dan sebagainya terdapat berbagai kaidah umum yang dapat memudahkan para penuntut ilmu dalam memahaminya, maka begitu pula dalam Ilmu Waqof & Ibtida’. Cukup banyak kaidah umum yang nantinya bisa diterapkan di berbagai ayat Al-Quran.

Para ulama telah memberikan perhatian khusus terhadap cabang ilmu ini hingga menelurkan berbagai karya menarik, mulai dari yang membahas secara menyeluruh seperti Al-Muktafa karya Imam Ad-Dani rohimahulloh hingga kitab yang membahas satu sisi bidang ini secara khusus.

Diantara faedah dari mempelajari ilmu ini adalah memudahkan seorang muslim untuk menentukan dimana sebaiknya ia berhenti sebelum kehabisan nafas saat membaca Al-Quran.

Imam Abu Hatim As-Sijistani rohimahulloh pernah menuturkan:

مَنْ لَمْ يَعْلَمِ الوَقْفَ لَمْ يَعْلَمْ مَا يَقْرَأْ

“Siapa yang tidak memahami ilmu waqof, maka sejatinya orang tersebut tidak memahami apa yang ia baca”

Artikel ini insyaAllah akan kami sajikan dalam bentuk serial bersambung yang mana tiap tulisan akan membahas satu kaidah secara mendetail.

Kaidah Pertama

الوَقْفُ هُوَ التَّفْسِيْرُ

Waqof adalah Tafsir

Maksud dari kaidah ini adalah bahwa seseorang yang memilih waqof tertentu ditengah aktifitas membaca Al-Quran sejatinya ia sedang menggambarkan pemahamannya terhadap makna dari ayat yang ia baca.

Alasan diatas nantinya melatarbelakangi berbagai perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini. Sebab masing-masing memiliki pemahaman yang berbeda terhadap makna suatu ayat.

Diantara contohnya adalah firman Allah subhanahu wata’ala pada surat Al- Anfal:

وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): “Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri). (Al-Anfal: 50)

Terdapat perbedaan waqof diantara para ulama:

Pendapat Pertama: Waqof pada lafadz كَفَرُوا, kemudian langsung memulai dengan lafadz setelahnya.

Pendapat Kedua: Tidak waqof kecuali pada akhir ayat عَذَابَ الْحَرِيقِ

Perbedaan pendapat diatas dipengaruhi oleh pemahaman tiap ulama terhadap tafsir ayat. Para ulama yang mengambil pendapat pertama menafsirkan bahwa proses malaikat memukul orang-orang kafir tersebut terjadi setelah mereka wafat atau di alam Barzakh. Sedangkan pada pendapat kedua menunjukkan bahwa proses ini terjadi saat mereka diwafatkan.

Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kita dari siksaanNya. Amiin.

Referensi:

Al-Kamil, Al-Hudzali

Al-Waqfu wa Al-Ibtida wa Atsaruhuma fi Al-Ma’ani, Sa’id As-Shufi

Penulis : Ust. Afit Iqwanuddin, Lc. Hafidzhohullah

( Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah Fakultas Al Qur’an )

Amalan di 10 Hari Terakhir Ramadhan

Beberapa amalan yang dapat dilakukan untuk mengisi 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah sebagai berikut.

I’tikaf di Masjid
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan melakukan ketaatan kepada Allah. Ketika seseorang melakukan i’tikaf maka ia mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, menahan jiwanya untuk bersabar dalam ibadah, memutus hubungan dengan makhluk untuk berkomunikasi dengan Khaliq–nya, mengosongkan hati dari kesibukan dunia yang menghalanginya dari mengingat Allah Ta’ala dan sibuk beribadah dengan melakukan dzikir, membaca Alquran, shalat, berdoa, bertaubat, dan beristigfar.

I’tikaf dianjurkan setiap waktu, tetapi lebih ditekankan ketika masuk bulan Ramadhan. Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melakukan i’tikaf di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ber-i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri beliau ber-i’tikaf setelah itu.” (HR. Al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)

Dari hadits tersebut, dapat kita simpulkan bahwa seorang wanita juga dianjurkan untuk melakukan i’tikaf karena dahulu para istri Nabi tetap melakukan i’tikaf sepeninggal beliau.

Qiyamul Lail
Di antara amalan yang istimewa di 10 hari terakhir Ramadhan adalah bersungguh-sungguh dalam shalat malam, memperlama shalat dengan memperpanjang berdiri, ruku’, dan sujud. Demikian pula memperbanyak bacaan Alquran dan membangunkan keluarga dan anak-anak untuk bergabung melaksanakan shalat malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berdiri (untuk mengerjakan shalat) pada lailatul qadr karena keimanan dan hal mengharap pahala, akan diampuni untuknya segala dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901)

Membaca Alquran
Hendaknya seseorang bersemangat untuk tilawah Alquran karena Ramadhan merupakan waktu turunnya Alquran. Demikian pula karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetorkan bacaan Alquran kepada Jibril ketika Ramadhan, sebagaimana hadits dari Fathimah radhiyallahu ‘anha,

أنّ جبريل عليه السلام كان يعارضه القرآن كل عام مرةً وأنّه عارضه في عام وفاته مرتين

‘Sesungguhnya Jibril ‘alaihis salam biasanya menyetorkan Alquran dengan Rasulullah sekali dalam setiap tahun. Akan tetapi, ia menyetorkan Alquran dua kali di tahun wafatnya Rasulullah.’ (HR. Muslim no. 2450)

Shadaqah
Di antara amalan yang dianjurkan ketika bulan Ramadhan adalah ber-shadaqah. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ النَّاسِ بِالْخَيْرِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُوْنُ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ، إِنَّ جِبْرِيْلَ َعَلْيْهِ السَّلَام ُكَانَ يَلْقَاهُ فِيْ كُلِّ سَنَةٍ فِيْ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخُ فَيعْرضُ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ، فَإِذَا لَقِيْهِ جِبْرِيْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan manusia paling dermawan dengan kebaikan dan beliau lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan. Sesungguhnya Jibril menemui beliau setiap tahun di bulan Ramadhan hingga berlalulah bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyetorkan bacaan Alquran kepada Jibril. Apabila beliau berjumpa dengan Jibril, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan dengan kebajikan melebihi angin yang berhembus.” (HR. Al-Bukhari no. 3220)

Memperbanyak Doa
Hendaknya seseorang banyak berdoa di 10 hari terakhir Ramadhan karena jika doanya bertepatan dengan malam lailatul qadar maka doanya akan terkabul. Demikian pula, hendaknya seseorang berdoa dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika bertanya tentang doa yang diucapkan ketika lailatul qadar,

قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. At-Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850, At Tirmidzi berkata: “Hasan shahih”)

Bertaubat dan Istigfar
Di antara amalan yang sangat dianjurkan untuk dilakukan di bulan Ramadhan adalah memperbanyak taubat dan istigfar karena bulan Ramadhan adalah bulan ampunan. Allah Ta’ala berfirman dalan hadits qudsi,

يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَادَعَوْتَنِي وَرَجَوْتَنِي غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَاكَانَ فِيْكَ وَلاَأُبَالِىْ يَاابْنَ آدَمَ لَؤْ بَلَغَتْ ذُنُوْ بُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِيْ يَاابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ اْلأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِيْ لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئًا َلأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku maka Aku akan mengampuni semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli. Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukan-Ku dengan apapun juga maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga.” (HR. At-Tirmidzi no. 3540, dihasankan al-Albani dalam Shahih at-Targhib, no. 1616)

Amalan di 10 hari terakhir Ramadhan

Aku Tidak Tahu

Yang Harus Dilakukan Ulama Bila Dia Ditanya Tentang Sesuatu Yang Dia Tidak Mengetahui Jawabannya

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma berkata: Seorang laki-laki menghadap Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, tempat apakah yang paling baik ?” Jawab Nabi, “Aku tidak tahu”. Lalu dia bertanya lagi, “Tempat apakah yang paling buruk ?” Jawab Nabi, “Aku tidak tahu”. Kata laki-laki tersebut, “Tanyalah kepada Tuhanmu”. Lalu Jibril Alaihis Salam datang kepada Nabi, kemudian beliau bertanya kepadanya, “Wahai Jibril, tempat apakah yang paling baik ?” Jawab Jibril, “Aku tidak tahu” Tanya Nabi lebih lanjut, “Tempat apakah yang paling buruk ?” Jawab Jibril, “Aku tidak tahu”. Maka Nabi pun bersabda kepadanya, “Tanyalah kepada Tuhanmu”. Maka tubuh Jibril bergoncang hingga nyaris membuat Nabi pingsan, lalu dia berkata, “Aku tidak pernah menanyakan kepada Allah tentang sesuatu”. Maka Allah Azza Wa Jalla berfirman kepada Jibril, “Muhammad menanyakan kepadamu ‘Tempat apakah yang paling baik ?’, lalu engkau menjawab ‘aku tidak tahu’, kemudian dia juga menanyakan kepadamu ‘tempat apakah yang paling buruk ?’, lalu engkau menjawab ‘aku tidak tahu’. Maka beritahukanlah kepadanya bahwa tempat paling baik adalah masjid dan tempat paling buruk adalah pasar.”[1]

Faidah Hadits :

  • Apabila seorang ulama ditanya tentang suatu masalah yang dia tidak mengetahui jawabannya, hendaklah dia mengatakan, “Aku tidak tahu.”

كتبه الفقير علي مرتضى شهودي

Maraji’ :

(Mukhtashor Jami’ Bayan Al Ilmi Wa Fadhlih, Ibnu Abdil Barr, Hal 219-220, Dar Al Khair)

=====================


[1]– HR. Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al Ilmi Wa Fadhlih (2/50). [Shahih]

Silahkan share! Jadilah kunci-kunci kebaikan bagi orang lain.

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

📜 Buletin Jumat Al Islah: 📞 ✉️ +6281326883282/+6287885672787

💰 Santunan: www.bimtegal.xyz/donasi

📥Telegram: http://t.me/bimtegal

👥 facebook:  https://m.facebook.com/bimtegal